Rabu, 10 Februari 2010


Kisah Ayah dan Anak beserta Sepeda Tua

Di kisahkan pada suatu hari ada seorang ayah dan anaknya yang berencana menjual sepeda tua kesayangannya ke sebuah pasar. karena dia ingin sepeda itu tetap bersih dan tampak baru ketika di jual, sepeda tersebut dicuci dan dibersihkan sebelum dibawa ke pasar. Jarak pasar tempat sepeda tersebut akan dijual lumayan jauh dari rumah mereka oleh karena itu sang ayah bersama anaknya membawa sepeda tersebut dengan cara dipanggul agar tetap bersih ketika bertemu dengan pembeli di pasar. Sebelum sampai di pasar kedua orang ini bertemu dengan seseorang dan dengan wajah sinis, orang tersebut memberikan celutakan “gila kali yah kedua orang ini, sepeda tidak rusak tidak apa koq bukannya ditunggangi malah dibawa kaya gitu”. Mendengar celetukan itu sang ayah langsung menurunkan sepeda dari punggungnya dan menyuruh anaknya untuk menaiki boncengan dan dia yang akan mengayuhnya sampai tiba di pasar.
Belum lama sang ayah dan anak mengayuh sepeda, mereka bertemu dengan kerabat mereka dan ditanyai hendak kemana mereka pergi, setelah menjelaskan bahwa mereka ingin menjual sepeda ke pasar, sang kerabat menyarankan untuk tidak memakai sapeda secara berboncengan karena dapat menyebabkan ban sepedanya kempes. Mendengar saran kerabatnya tersebut sang ayah langsung memerintahkan anaknya untuk turun dan berjalan kaki.
Setelah beberapa menit mengayuh sepeda mereka bertemu dengan nenek-nenek yang ingin menyebrang jalan, sambil melirik sinis nenek tersebut mengumpat “dasar orang tua yang tak punya kasih sayang masa tega-teganya nyuruh anaknya jalan kaki sementara dia enak-enakan pakai sepeda”. Mendengar umpatan nenek tersebut wajah sang ayah memerah malu dan langsung turun dan seketika itu menyuruh anaknya untuk naik dan mengayuh sepeda dan biar dirinya yang berjalan kaki.
Belum sampai di pasar, mereka bertemu dengan segerombolan pemuda yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan. Dengan suara agak keras para pemuda itu menyindir “dasar anak gak tau diri, masa bapaknya disuruh jalan, dia asyik-asikan pakai sepeda” mendengar sindiran itu sang ayah spontan langsung berteriak.””aduuuuhhhhh salah lagi””.

Dari satu kisah diatas ada satu makna yang dapat kita tangkap bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa memuaskan semua orang dengan apa yang dilakukannya. Termasuk juga seorang pemimpin, seorang pemimpin harus siap untuk menerima kritikan terhadap apa yang dilakukannya tetapi hendaknya kritikan tersebut tidak lah cepat menggoyahkan keputusan yang dilakukannya karena yang diperlukan oleh seorang pemimpin adalah konsistensi dalam melakukan suatu pekerjaan.

Terinspirasi dari kisah seorang sahabat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar